@copyright 2010 and powered
Selamat Datang Kepada Sahabat-sahabat di Mujahid Blog....^_^
Sabtu, 14 November 2009
Sabtu, 17 Oktober 2009
Perkembangan Media Sederhana
Salah satu faktor yang mempengaruhi kegiatan pembelajaran ialah penggunaan media. Mengapa penggunaan media pembelajaran itu perlu ?. mungkin pertanyaan itu akan dijawab dengan pertanyaan yang berikut. Pernahkah menemui kesulitan saat memberikan penjelasan materi pelajaran kepada peserta didik ?, misalnya : guru ingin menjelaskan tentang seekor binatang
. Salah satunya ialah dengan menggunakan media sederhana yang bahan-bahannya tidak terlalu sulit didapat dan mudah dlm penggunaanya.
Namun masalah yang sering ditemukan dilapangan / disekolah, mengapa sampai saat ini masih ada guru yang enggan untuk menggunakan media ?. alasan yang pertama ialah menggunakan media itu repot. Kedua, media itu canggih dan mahal. Ketiga, memang guru itu tidak bisa menggunakan media. Keempat, media itu hiburan
Dari banyaknya alas an tersebut dapat kita simpulkan jawabannya, yaitu dengan menggunakan media sedehana, yang simple, praktis tanpa mengurangi kualitas meteri yang diberikan. Memang media elektronik seperti OHP, sound slide, lebih menarik perhatian siswa untuk belajar, karena bulem banyak guru yang menguasai alat tersebut, maka tidak ada salahnya jika guru menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media sederhana.
Sejak tahun 1930 berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kebermanfaatan penggunaan untuk keperluan pembelajaran. Penelitian diawaali dengan evalusi media untuk melihat apakah suatu media dapat dipergunakan unutk pembelajaran.
Penelitian ini berasumsi bahwa media sebagai stimulus dapat mengubah perilaku. Akan tetapi hasil penelitian itu dianggap kurang dapat diandalkan karena hasil menunjukkan bahwa semua media dapat dipergunakan untuk pembelajaran. Oleh karenaitu penelitian-penelitian berikutnya beralih ke penelitian perbandingan media unutk pembelajaran. Penelitian itu bertujuan untuk mengetahui apakah suatu media lebih baik daripada media yang lain. Misalnya apakah gambar diam lebih baik dari pada gambar gerak ( film ) atau apakah media audio lebih baik daripada media visual. Hasil penelitian itu tidak konsisten dan sulit dipercaya.
Ternyata keberhasialan menggunakan media dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada
(1) isi pesan (2) cara menjelaskan pesan, dan (3) karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan ketiga faktor tersebut. Tidak berarti bahwa semakin canggih media yang digunakan akan semakin tinggi hasil belajar atau sebaliknya. Untuk tujuan pembelajaran tertentu dapat saja penggunaan papan tulis lebih efektif dan lebih efesien daripada penggunaan LCD, apabila bahan ajarnya dikemas dengan tepat serta disajikan kepada siswa yang tepat pula.
Sungguhpun demikian, secara operasional ada sejumlah pertimbangan dalam
memilih media pembelajaran yang tepat, antara lain :
- Access
Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apakah media yang diperlukan itu tersedia, mudah dan dapat dimanfaatkan oleh murid? Misalnya, kita ingin menggunakan media internet, perlu dipertimbangkan terlebih dahulu, apakah ada saluran untuk koneksi ke internet, adakah jaringan teleponnya? Akses juga menyangkut aspek kebijakan, misalnya apakah murid diizinkan untuk menggunakan komputer yang terhubung ke internet? Jangan hanya kepala sekolah saja yang boleh menggunakan internet, tetapi juga guru/karyawan dan murid. Bahkan murid lebih penting untuk
memperoleh akses.
- Cost
Biaya juga harus menjadi bahan pertimbangan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media pembelajaran yang canggih biasanya mahal. Namun biaya itu harus kita hitung dengan aspek manfaat. Sebab semakin Pendayagunaan Media Pembelajaran
banyak yang menggunakan, maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.
- Technology
Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. Tetapi kita perlu memperhatikan apakah teknisinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggunakan media audio visual untuk di kelas, perlu kita pertimbangkan, apakah ada aliran listriknya, apakah voltase listriknya cukup dan sesuai, bagaimana cara mengoperasikannya?
- Interactivity
Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Semua kegiatan pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
- Organization
Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. Misalnya apakah pimpinan sekolah atau pimpinan yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya? Apakah di sekolah tersedia sarana yang disebut pusat sumber belajar?
- Novelty
Kebaruan dari media yang akan dipilih juga harus menjadi pertimbangan. Sebab media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi murid.
Dari beberapa pertimbangan di atas, yang terpenting adalah adanya perubahan sikap guru agar mau memanfaatkan dan mengembangkan media pembelajaran yang “mudah dan murah”, dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungan sekitarnya serta memunculkan ide dan kreativitas yang dimilikinya.
Tidak diragukan lagi bahwa semua guru sepakat bahwa media itu perlu dalam pembelajaran. Kalau sampai hari ini masih ada guru yang belum menggunakan media, itu hanya perlu satu hal yaitu perubahan sikap. Dalam memilih media, perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing. Dengan perkataan lain, media yang terbaik adalah media yang ada. Terserah kepada guru bagaimana ia dapat mengembangkannya secara tepat dilihat dari isi, penjelasan pesan dan karakteristik siswa.
Perkembangan media poster di dunia
poster adalah sejenis kerja kreatif seni rupa yang berkait dengan kegiatan propaganda atau kampanye masalah-masalah sosial-politik. Hal ini jelas terlihat dari poster-poster yang tampil dalam dua pameran poster, yang memicu kajian ringkas tentang sejarah poster dalam esai ini.
Seni poster ini menyebar ke seluruh Eropa, bahkan hingga ke Amerika Serikat dan hadir di baris depan budaya masyarakat urban. Di Perancis, adalah café dan dunia hiburan, lengkap dengan produk rokok dan alkoholnya, menjadi pihak pemesan poster yang paling aktif. Di Italia, peran ini diambil oleh kelompok opera dan industri fashion. Di Spanyol, pertunjukan adu banteng dan berbagai festival
Atau, bayangkanlah sebuah
Lorong-lorong itu adalah tempat bermuaranya nilai-nilai modernitas yang penuh paradoks dan ironi, ruang dialektika masyarakat modern. Sebuah ruang yang tidak di luar, tidak di dalam; eksterior, tapi juga interior; pembujuk yang menggoda dan memenjara konsumen dengan segala komoditas yang ditawarkan toko-tokonya, juga pintu gerbang yang menawarkan utopia tentang masa makmur serba berlimpah.
Secara arsitektural tempat ini adalah tempat yang aman: ia meredam riuh kereta dari arah lebuh di kedua ujungnya, menangkap cahaya Matahari tapi meredam suhu panasnya, menepis salju, hujan, becek, atau debu dari jalan raya.
Maka, dinding-dinding marmer dalam lorong arkade, jendela-jendela tokonya, adalah tempat terbaik bagi poster-poster. Seorang pelancong dan pejalan kaki yang paling terburu-buru sekalipun akan punya cukup ruang dan waktu untuk menangkap pesan yang ditawarkan poster-poster itu. Lembar-lembar poster pun bisa bertahan cukup lama, terlindung dari panas, hujan, atau debu dan-tak kalah penting-vandalisme.
Inilah kualitas ruang arsitektural dan ruang sosial yang mutlak dibutuhkan bagi kehadiran poster di tempat-tempat umum.
Antara dua perang: poster dan propaganda
Perang Dunia I (1914) memantik energi lain dari lembar poster: propaganda. Poster muncul untuk membawa pesan penggalangan dana lewat penjualan
Kebutuhan untuk menyampaikan pesan yang langsung dan tegas dalam propaganda akhirnya hanya memberi tempat bagi corak gambar realis sederhana atau bahkan kasar. Peran penting ada pada teks yang keras dan sloganistis. Perhatikan, misalnya, karya James Montgomery Flagg (1877-1960), dengan sosok Paman Sam yang menunjuk, dan di bagian bawahnya tertulis: "I Want You for US Army", serta anjuran untuk segera menghubungi tempat pendaftaran terdekat. Poster dengan
Produksi besar-besaran poster di masa perang ini, khususnya di Amerika Serikat, dengan jelas menunjukkan kuatnya dukungan lembaga-lembaga pemerintah. Sedemikian pentingnya propaganda dan diseminasi wacana patriotisme yang dibutuhkan dalam masa perang dan konflik ini sehingga dibentuk Kantor Informasi Perang AS, Agustus 1942. Lembaga ini membentuk Biro Publikasi Grafis yang menghimpun seniman untuk merancang dan menyiapkan bahan publikasi grafis, khususnya poster, untuk berbagai badan pemerintahan AS. Tak kurang dari Archibald MacLeish, penyair yang dikagumi Chairil Anwar itu, pernah memimpin biro ini.
Patronase politik dan pesan-pesan propaganda resmi pemerintah/negara dalam poster juga terjadi di Jerman, Rusia, juga kemudian Cina, Kuba, dan sejumlah negara lain. Pemerintah dan negara yang baru terbentuk ini membutuhkan legitimasi dan sekaligus mobilisasi
Meskipun produksi poster termasuk berlimpah pada masa-masa krisis seperti ini, tak banyak pencapaian atau pembaruan artistik yang hadir dalam poster-poster di masa ini.
Pengecualian bisa diberikan untuk poster-poster dari periode yang singkat di Rusia awal 1920-an ketika El Lissitzky dan kawan-lawan menghadirkan "Konstruktivisme", ramuan baru kaum modernis Rusia atas aliran Kubisme-Futurisme yang sudah berkembang lebih awal di Eropa Barat. Poster-poster dari masa ini sudah mulai memanfaatkan fotografi dan proses cetak offset. Komposisinya berisi campuran gambar dan teks dalam tata serba diagonal, bertumpangsusun bagai rangka konstruksi bangunan pabrik. Inilah corak seni rupa yang ingin menampilkan citra gerak dinamis zaman itu.
Kamis, 04 Juni 2009
siap aksi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Demonstrasi atau demo beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lainnya dari kedua kata tersebut, lihat Demonstrasi (disambiguasi).
Pengunjuk rasa di Amerika Serikat.
Unjuk rasa atau demonstrasi ("demo") adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak.
Unjuk rasa umumnya dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah atau para buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya. Namun unjuk rasa juga dilakukan oleh kelompok-kelompok lainnya dengan tujuan lainnya.
Unjuk rasa kadang dapat menyebabkan pengrusakan terhadap benda-benda. Hal ini dapat terjadi akibat keinginan menunjukkan pendapat para pengunjuk rasa yang berlebihan.
[sunting]
Unjuk rasa di Indonesia
Di Indonesia, unjuk rasa menjadi hal yang umum sejak jatuhnya rezim kekuasaan Soeharto pada tahun 1998, di mana unjuk rasa menjadi simbol kebebasan berekspresi di negara tersebut. Unjuk rasa terjadi hampir setiap hari di berbagai bagian di Indonesia, khususnya Jakarta.